Laman

Rabu, 26 Mei 2010

Tyas Mirasih Kembali Tampil Sexy


Jakarta, 27 Mei 2010 08:00
Setelah tampil seksi dalam sebuah film bersama Tamara Bleszynski, kini Tyas Mirasih kembali pamer tubuh dalam film produksi MVP Pictures, Ratu Kostmopolitan.

"Kalau di sini kan (berperan sebagai) guru aerobik yang dituntut bohai. Tapi seksinya kan beda. tidak harus selalu mengenakan pakaian seksi. Kalau peran ini kan seksi yang bagus," tuturnya, di sela-sela jumpa pers film garapan sutradara Ody C Harahap itu, beberapa waktu yang lalu di Jakarta.

Namun, Tyas menolak mentah-mentah anggapan bahwa dirinya hanya ingin menerima tawaran film yang menonjolkan kemolekan tubuh seorang wanita. Film yang dilakoninya bersama Tamara, kata Tyas, diterimanya lantaran sosok di balik layar yang menggarap film itu, Rizal Mantovani.

"Gue nggak mau dicap artis yang suka berpakaian seksi," klaim wanita berusia 23 tahun ini.

Tyas memang menolakperan-peran yang menonjolkan keseksian tubuh. Namun untuk adu dialog di hadapan kamera, dalam perannya sebagai Tari dalam film Ratu Kostmopolitan, Tyas masih kesulitan untuk mempelajari logat Manado, yang merupakan ciri khas dari lakonnya di film itu.

"Ngomong dengan logat Manado. (Saya) Ada turunan Manado, tapi nggak bisa ngomong Manado," ungkap pemilik nama asli Mirasih Tyas Endah ini.

"Hampir sebulan workshop dan latihan ngomong Manado. Yang paling kasihan gue. Tantangan terberat ya ngomong Manado itu. Maaf ya kalau ada yang salah saat ngomong Manado," tambahnya.

Rupanya, Tyas masih perlu mengasah kemampuan berakting, untuk menghapus anggapan maupun pencitraan bermodal peran-peran seksi, dalam kiprahnya mendatang di industri film. [EL]

Sumber berita : http://gatra.com/artikel.php?id=138080

Read More ..

Sabtu, 22 Mei 2010

Tess Taylor Arlington.. Cewek Cyber Tahun 2010

Nih Foto Sexy nya.. walah dalah.. Cewek Cyber Tahun 2010 ....

Read More ..

Kamis, 20 Mei 2010

Video Bayi Hampir Tertabrak Mobil

Read More ..

Wow.. Foto Sexy Rima Fakih Miss US Ketika Stripping Dance Contest


She is hot

Read More ..

Bupati Jember Keseleo Lidah "Nabi Muhammad Sombong"


Sebagai Bupati Jember, M.Z.A. Djalal terbiasa dengan urusan serius. Namun kali ini urusannya lebih rumit hanya gara-gara ia keseleo lidah. Blunder besar itu dilakukannya pada saat berpidato dalam acara "Dialog Solutif Bedah Potensi Desa" di Desa Garahan, Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, 28 April lalu.


Meski bukan forum pengajian, materi pidato Pak Bupati ketika itu banyak menyinggung soal kebaikan dan ajaran Rasulullah SAW. Di hadapan ratusan audiens yang hadir, ia menekankan pentingnya sifat peduli pada sesama. Untuk itu, ia meminta masyarakat tak segan meniru perilaku Nabi Muhammad SAW yang "sombong". Artinya, meskipun miskin, suka memberi kepada orang lain. "Sombong Nabi Muhammad itu, gih, sombong neka gih.... Tapi sombong Nabi neka baik," ujarnya dalam dialek Maduraan yang kental.

Di tengah masyarakat Jember yang agamis, memberi cap sombong kepada Nabi bisa sensitif. Kalimat sembrono seperti itu bisa bikin kuping orang Jember jadi panas. Kabupaten Jember, yang berada di kawasan timur Jawa Timur, merupakan bagian dari kawasan "tapal kuda, pusat komunitas nahdiliyyin tradisonalis beretnik Madura.

Lebih repot lagi, pidato Djalal itu terjadi pada waktu yang salah. Yakni menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada), yang akan digelar di Jember pada 7 Juli mendatang. Dalam pilkada ini, ia akan maju sebagai salah satu kandidat. Alhasil, keseleo lidah itu langsung disambut masalah. Gunjingan warga yang semula hanya beredar di warung kopi makin meruncing setelah pidato itu beredar luas melalui cakram padat (CD). Versi pendeknya cepat beredar antarponsel dan jejaring sosial.

Pekan lalu, berbagai aksi anti-bupati pun digelar. Sekelompok anak muda yang menamakan diri Himpunan Mahasiwa Cinta Rasulullah (HMCR) menggalang dukungan luas anti-bupati. Di media-media lokal, berbagai suara minor dan ancaman ramai menyerangnya.

Tak cukup sampai di situ. Laporan resmi ke polisi juga disampaikan masyarakat. Pelapornya adalah salah satu kiai setempat, KH Farid Mujib. Ia datang ke Polres Jember membawa CD berisi pidato lengkap Djalal. "Saya mewakili masyarakat Islam sangat tersinggung atas pidato tersebut. Apalagi, yang menyampaikan adalah seorang public figure sekelas bupati," katanya.

Menurut Farid, ia melapor ke polisi karena perbuatan Djalal termasuk penodaan agama, sehingga bisa dijerat dengan Pasal 156a KUHP. Ancaman hukumannya adalah empat tahun penjara.

Rekaman orasi Djalal menunjukkan, terdapat klaim tentang kesombongan Nabi dalam pidatonya yang beberapa kali diulang. Di antara penggalan kalimatnya adalah: "... Harus sombong, Pak. Nabi Muhammad saja sombong, meski di rumah ada tamu dan nasi tinggal sepiring, nasi itu tetap dibagi untuk disuguhkan. Sombong, Pak. Tapi sombong yang bagus...."

Pimpinan Pesantren Mambaul Ulum, Jember, itu mengaku sangat keberatan atas pernyataan tersebut. Sebab, dalam sebuah hadis, Nabi melarang umatnya berlaku sombong. Ia mengutip sabda Nabi: tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi.

Hari-hari sesudahnya masih terus kelabu bagi Bupati Djalal. Berbagai aksi menentangnya terus digalang. Rabu pekan lalu, misalnya, 200 warga yang tergabung dalam Forum Umat Islam Bersatu menggelar unjuk rasa di pendopo Kabupaten Jember. Mereka menuntut agar Bupati Djalal meminta maaf dan bertobat.

Pengunjuk rasa mengusung spanduk sembari melakukan orasi. Sekretaris Pengurus Cabang NU Jember, Misbahussalam, dalam orasinya menyatakan, dalam hukum Islam tak ada kategori kesalahan kata-kata. Yang ada haram, halal, kafir, dan murtad. "Pak Djalal seharusnya turun. Tak pantas menjadi pemimpin," katanya.

Misbahussalam mengungkapkan, telah digelar bahtsul masail di tingkat PCNU Jember. Forum itu berkesimpulan bahwa pernyataan Bupati Djalal masuk kategori menghujat Nabi. Meskipun maksud yang disampaikan baik, identifikasi buruk kepada Nabi itu bisa membuat penyesatan persepsi publik.

Djalal sebetulnya telah mengakui kekhilafannya. Di hadapan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember, ia meminta maaf kepada seluruh masyarakat yang tersinggung oleh perkataannya. Klarfikasi resmi itu, selain diucapkan di hadapan MUI, juga disampaikan di depan ormas Islam, ulama, dan tokoh masyarakat setempat. "Kalau ada kekhilafan dalam memilih kata, saya memohon maaf. Maaf saya tidak hanya kepada sampeyan semua, tapi kepada Allah yang tahu isi hati saya. Saya sudah membaca istigfar dan salawat," ujarnya.

Menurut dia, ajakan bersedekah dan meniru ajaran Rasullah SAW itu disampaikannya dalam konteks membangun perilaku masyarakat yang mandiri. Ia melihat, secara kasuistik, ada kalangan mampu yang bila ada pembagian bantuan langsung tunai ikut mengajukan diri.

Kata Djalal, kunci terjadinya kemiskinan adalah tidak adanya kebesaran hati. Ia mengaku berniat meminta masyarakat berbesar hati, tapi terlampau ekstrem memilih diksi. Ia mengakui mengucapkan kata "sombong" untuk Rasulullah.

Ketika berpidato, ia mengutip sebuah kisah Nabi yang pernah didengarnya bahwa suatu ketika Nabi menyimpan makanan sedikit. Tapi, ketika ada orang yang datang dan meminta makanan itu, Nabi langsung memberikannya kepada yang kelaparan tersebut. "Saya memberikan kosakata yang mungkin agak ekstrem dan berlebih-lebihan karena saya tidak bisa memilih kalimat," tuturnya.

Namun ia menegaskan, tidak ada maksud lain kecuali hanya menegaskan ketedanan Rasululullah SAW. "Sampai mati, saya tidak akan pernah menghina Nabi Muhammad," katanya. MUI Jember yang mengkaji persoalan itu menilai, dari awal sampai akhir tidak ada kata-kata yang menghujat Nabi dalam pidato Djalal.

Ketua MUI Jember, Sahilun A. Nasir, mengungkapkan bahwa pidato Djalal itu semangatnya mengajak masyarakat untuk senantiasa berbesar hati, meski dalam kekurangan. "Saking semangatnya, hingga terucap kata sombong untuk Nabi," ujar pengasuh Pondok Pesantren Al Jauha itu.

Mujib Rahman, dan Arif Sujatmiko (Surabaya)
[Agama, Gatra Nomor 27 Beredar Kamis, 13 Mei 2010]

Read More ..

4MDQZYT5HRDF

Read More ..

Pekerja Sex Komersil, Mau di sensus Malah Kabar

Mau Disensus, PSK Malah Kabur

Mataram, 16 Mei 2010 11:42
Belasan pekerja seks komersial (PSK) berlarian ketika petugas Sensus Penduduk 2010 dari BPS NTB menghampiri mereka di Pasar Burung Cakranegara, Kota Mataram, Minggu dinihari (16/5).

Kedatangan belasan petugas sensus di pasar burung yang merupakan bekas lokalisasi PSK tersebut, untuk melakukan pendataan tunawisma dan gelandangan yang tidak memiliki tempat tinggal tetap.

Belasan warga yang kabur itu sebagian besar adalah perempuan dan waria. Mereka kabur melalui sebuah lorong di samping Kantor Pos Cabang Cakranegara, ketika melihat iring-iringan mobil petugas sensus.

Petugas sensus berusaha mengejar mereka hingga ke dalam perkampungan penduduk, namun usaha tersebut gagal karena warga yang kabur itu sudah bersembunyi di sejumlah rumah penduduk.

Para petugas sensus mencoba menanyakan kepada pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar pasar burung tersebut, namun mereka tidak mengetahui secara pasti identitas dan dari mana warga yang kabur itu berasal.

Dalam sensus penduduk khusus tunawisma di Kota Mataram, BPS NTB menerjunkan sebanyak 21 orang petugas sensus yang dibagi menjadi tiga tim dan disebar ke tiga kecamatan yakni Ampenan, Mataram dan Cakranegara.

Setiap tim dibantu oleh satu orang aparat kepolisian dan satu orang petugas dari Dinas Sosial untuk melakukan pendataan yang difokuskan di lokasi-lokasi strategis yang dijadikan tempat tidur bagi tunawisma seperti pasar tradisional, emperan toko dan bawah kolong jembatan.

Ketika para petugas sensus menemukan warga yang tidur di pasar tradisional dan emperan toko, mereka dengan sikap sopan membangunkan warga dan menanyakan identitas dan asalnya dari mana.

Kepala BPS NTB Soegarenda yang ikut dalam sensus tersebut mengatakan, sensus tunawisma yang dilakukan pada Minggu dini hari serentak di lakukan di seluruh Indonesia.

"Kita sengaja melakukan pendataan terhadap tunawisma pada dinihari karena warga yang tidak memiliki tempat tinggal sulit untuk didata pada siang hari. Kalau malam begini mereka kan sudah tidur jadi gampang didata," katanya.

Menurut dia, pihaknya menghadapi kendala dalam sensus penduduk khusus untuk tunawisma seperti warga yang takut melihat kedatangan petugas sensus karena mungkin mereka mengira bahwa yang datang adalah petugas keamanan yang melakukan razia.

Selain itu, para tunawisma juga ada yang sulit diajak berkomunikasi karena rasa takut, atau karena menderita gangguan jiwa.

"Malam ini kita juga menemukan warga yang sudah tidak waras tidur di emperan toko di kawasan perdagangan Cakranegara. Meskipun dia tidak waras kita tetap melakukan pendataan karena dia itu juga warga negara Indonesia," katanya.

Ia mengatakan, dalam menghadapi kendala-kendala yang ditemukan di lapangan, para petugas sensus telah diberi pelatihan dan pemahaman sebelum mereka melaksanakan tugas pendataan.

Menurut dia, petugas sensus penduduk khusus tunawisma berbeda dengan petugas sensus penduduk yang sudah memiliki tempat tinggal tetap yakni dari sisi pertanyaan yang diajukan kepada responden cukup sederhana.

"Kita cukup menanyakan nama, umur, tempat asal dan jenis kelamin kepada tunawisma beda dengan warga yang punya tempat tinggal tetap ditanya sedetil-detilnya," kata Soegarenda. [TMA, Ant]

Sumber berita : http://gatra.com/artikel.php?id=137724

Read More ..